Senin, 30 Maret 2015

Dunia akhir

ALLAH selalu ada untuk kita jika kita sellalu mengutamakan Nya. Di akhir kesendirian manusia akan merasakan begitu dekatnya dengan ruhnya dan merasa jauh dari dunianya. Disitulah rasa ingin sekali bertemu sang kholik. Dunia hanya dirasa penuh dengan sumur hitam dan ingin sekali mnjauhinya. Saat dipintu pelepasan diri semua terasa dingin, bayangan lautan nan indah seolah mnhampiri kita. Kadang pula raga ini seakan sakit sekali. Ingin menangis mminta ptolongan pada orang disekitar kita.... permohonan pertolongan dari Allah yg membebaskan smua rasa sakit itu. Smua membisikkan Lailaahaillallah muhammadur rasulullah. Ya Allah ampuni dosa hambamu ini. Tutuplah mata ini agar tak melihat sesuatu yg mbuatku bdosa, tutplah telinga ini agar tak mndengarkan suara yg mbuatku bdosa, dan tutuplah mulut ini agar aku tak bbicara yg mbuatku bdosa.  Ikatlah tangan ini agar tanganku tak bbuat dosa, ..ya Allah lindungi kami dari hal yg mbuat kami masuk dalam sumur dosa.
Allah selalu ada untuk kita yg slalu tunduk iklas bertaqwa pada Nya. Laailahaillah muhammaddur rasulullah bisikan itu selalu terngiang dalam memory , bibir ini gemetar ketakutan. Selalu mmhon perlindungannYa

Kamis, 26 Maret 2015

MY BLOGGGG: Kisah poSyandu

MY BLOGGGG: Kisah poSyandu

Kisah poSyandu

           Aku memulai karir keduaku di kabupaten Probolinggo tepatnya di desa Sapih kecamatan Lumbang. Kali pertama aku menjadi seorang bidan desa yang sebelumnya aku pernah bekerja di Rumah Sakit DKT  (Dinas Kesehatan Tentara) Sidoarjo. Meskipun sebelum masuk desa aku dikarantina terlebih dahulu di Puskesmas Lumbang selama2 bulan, (1 bulan di poli KIA dan 1 bulan diperbantukan di UGD), menurutku waktu 2 bulan itu waktu yang cukup singkat untuk belajar mengenai program-program yang ada di Puskesmas dan di desa. Sehingga untuk kemajuan kinerja bidan desa perlu waktu paling tidak 3 bulan di Puskesmas untuk mendalami program-program yang ada.
Tepat tanggal 1 Juni 2010 aku pun diterjunkan ke desa dan resmi menjadi seorang bidan desa. Kunci pertama yang harus dipegang oleh seorang bidan desa adalah pak tinggi/ pak Lurah, kader serta perangkat desa. Dengan dukungan dari mereka, kita mendapat tempat utama dihadapan warga. Sehingga seluruh program diharapkan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan oleh dinas maupun pemerintah agar IPM (Indeks Pelayanan Masyarakat) Kabupaten Probolinggo dapat meningkat.  Kegiatan bidan desa yang tak kalah pentingnya adalah POSYANDU yang merupakan singkatan dari POS PELAYANAN TERPADU. Pos Pelayanan Keluarga Berencana - Kesehatan Terpadu (Posyandu) merupakan UKBM (Upaya Kegiatan Berbasis Masyarakat) berupa kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa. A.A. Gde Muninjaya (2002:169) mengatakan : ”Pelayanan kesehatan terpadu (posyandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas.
         Aku pun yang baru kali pertamanya menjadi seorang bidan desa merasa kebingungan akan hal-hal apa saja yang harus aku lakukan di posyandu dan bagaimana memulai perkenalan pertama dengan peserta posyandu. Posyandu 1 yang aku  jalani Aku memulai karir keduaku di kabupaten Probolinggo tepatnya di desa Sapih kecamatan Lumbang. Kali pertama aku menjadi seorang bidan desa yang sebelumnya aku pernah bekerja di Rumah Sakit DKT  (Dinas Kesehatan Tentara) Sidoarjo. Meskipun sebelum masuk desa aku dikarantina terlebih dahulu di Puskesmas Lumbang selama2 bulan, (1 bulan di poli KIA dan 1 bulan diperbantukan di UGD), menurutku waktu 2 bulan itu waktu yang cukup singkat untuk belajar mengenai program-program yang ada di Puskesmas dan di desa. Sehingga untuk kemajuan kinerja bidan desa perlu waktu paling tidak 3 bulan di Puskesmas untuk mendalami program-program yang ada.
Tepat tanggal 1 Juni 2010 aku pun diterjunkan ke desa dan resmi menjadi seorang bidan desa. Kunci pertama yang harus dipegang oleh seorang bidan desa adalah pak tinggi/ pak Lurah, kader serta perangkat desa. Dengan dukungan dari mereka, kita mendapat tempat utama dihadapan warga. Sehingga seluruh program diharapkan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan oleh dinas maupun pemerintah agar IPM (Indeks Pelayanan Masyarakat) Kabupaten Probolinggo dapat meningkat.  Kegiatan bidan desa yang tak kalah pentingnya adalah POSYANDU yang merupakan singkatan dari POS PELAYANAN TERPADU. Pos Pelayanan Keluarga Berencana - Kesehatan Terpadu (Posyandu) merupakan UKBM (Upaya Kegiatan Berbasis Masyarakat) berupa kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa. A.A. Gde Muninjaya (2002:169) mengatakan : ”Pelayanan kesehatan terpadu (posyandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas.
Aku pun yang baru kali pertamanya menjadi seorang bidan desa merasa kebingungan akan hal-hal apa saja yang harus aku lakukan di posyandu dan bagaimana memulai perkenalan pertama dengan peserta posyandu. Posyandu 1 yang aku  jalani Aku memulai karir keduaku di kabupaten Probolinggo tepatnya di desa Sapih kecamatan Lumbang. Kali pertama aku menjadi seorang bidan desa yang sebelumnya aku pernah bekerja di Rumah Sakit DKT  (Dinas Kesehatan Tentara) Sidoarjo. Meskipun sebelum masuk desa aku dikarantina terlebih dahulu di Puskesmas Lumbang selama2 bulan, (1 bulan di poli KIA dan 1 bulan diperbantukan di UGD), menurutku waktu 2 bulan itu waktu yang cukup singkat untuk belajar mengenai program-program yang ada di Puskesmas dan di desa. Sehingga untuk kemajuan kinerja bidan desa perlu waktu paling tidak 3 bulan di Puskesmas untuk mendalami program-program yang ada.
Tepat tanggal 1 Juni 2010 aku pun diterjunkan ke desa dan resmi menjadi seorang bidan desa. Kunci pertama yang harus dipegang oleh seorang bidan desa adalah pak tinggi/ pak Lurah, kader serta perangkat desa. Dengan dukungan dari mereka, kita mendapat tempat utama dihadapan warga. Sehingga seluruh program diharapkan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan oleh dinas maupun pemerintah agar IPM (Indeks Pelayanan Masyarakat) Kabupaten Probolinggo dapat meningkat.  Kegiatan bidan desa yang tak kalah pentingnya adalah POSYANDU yang merupakan singkatan dari POS PELAYANAN TERPADU. Pos Pelayanan Keluarga Berencana - Kesehatan Terpadu (Posyandu) merupakan UKBM (Upaya Kegiatan Berbasis Masyarakat) berupa kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa. A.A. Gde Muninjaya (2002:169) mengatakan : ”Pelayanan kesehatan terpadu (posyandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas.
Aku pun yang baru kali pertamanya menjadi seorang bidan desa merasa kebingungan akan hal-hal apa saja yang harus aku lakukan di posyandu dan bagaimana memulai perkenalan pertama dengan peserta posyandu. Posyandu 1 yang aku  jalani yaitu posyandu Pucak Sari tanggal 3 Juni 2010. Berkat bantuan kader BU Tini aku diantar sampai ketujuan dengan menumpang hartop. Waktu itu musim hujan sehingga kami bertiga yaitu aku, winta (perawat ponkesdes Sapih), bu Tini (kader posyandu Tersono) harus jalan sejauh 3 KM dari tempat akhir / terminal hartop (baca: dringu), karena jalanannya tidak dapat dilalui kendaraan kecuali sepeda motor dengan pengemudi yang sudah cukup handal. Sesampainya di posyandu kami pun bergegas melakukan pelayanan.
Posyandu di Pucak Sari terdapat 4 kader yaitu bu mamik, bu toni, tiarmi dan bu rudi, meskipun jumlah 4 meja itu terisi 4 kader lengkap tetapi kegiatan posyandunya cukup amburadul bagiku. Aku pun terdiam dan hanya melihat saja serta langsung melakukan pelayanan di meja 5. Sebagai bidan desa baru mulai lah dengan memperkenalkan diri pada kader-kader yang sedang bertugas, pasanglah wajah senang dan senyumlah pada setiap warga yang hadir. Jangan menunjukkan rasa kesal, capek atau yang dapat menyinggung warga. Karena hal itu akan mengurangi nilai plus kita pada warga. Bidan desa yang baik adalah yang mampu bersosialisasi dengan warganya dan mengesampingkan ego pribadinya.

Juli 2010 ( harus berjalan kaki saat posyandu)

(itu foto suasana posyandu di Pucak sari) yang diselenggarakan di rumah kader Bu MAMIK

Begitupun yang kurasakan saat posyandu di dua tempat yang berbeda lainnya yaitu di sapih dan di tersono. Pelayanan 5 meja tidak berjalan semestinya hal itu dikarenakan banyak factor, diantaranya adalah 1. Ketidak aktifan kader atau kurang lengkapnya jumlah kader sehingga ke 5 meja itu tidak terisi dengan lengkap yang pada akhirnya kader yang ada harus merangkap tugas. 2. Kegiatan posyandu yang membosankan karena tidak ada PMT atau kegiatan inovasi lainnya. 3. Ketidaktahuan kader akan disjobnya. 4. Kurangnya kesadaran dari masyarakat desa tentang pentingnya kegiatan Posyandu. 5. Kondisi tempat posyandu yang masih menumpang di rumah warga/kader sehingga administrasi tidak tertata dan tersimpan dengan baik.
Awalnya aku merasa kegiatan di posyandu itu sangat membosankan. Bayangkan saja ketika ibu –ibu bayi dan balita datang, ditimbang terus diisi KMS nya setelah itu diberi PMT (Pemberian Makanan Tambahan) yang pemberiannya juga tidak setiap bulan ada tergantung kas yang ada di posyandu setelah itu pulang. Mereka datang jauh-jauh hanya mendapatkan pelayanan itu-itu aja???alangkah ruginya dan kecewanya mereka jika setiap bulan kegiatannya monoton seperti itu. Terlebih lagi banyak warga yang tidak tahu tentang jadwal Posyandu padahal sudah dbuat kesepakatan untuk posyandu Pucak Sari setiap hari kamis minggu I, posyandu Tersono setiap kamis minggu ke II, posyandu Sapih tiap kamis minggu ke III.
Masalah posyandu yang aku alami waktu itu sangatlah bermacam – macam. Ada satu dusun binaan posyandu yang merupakan tantangan bagi saya dan sampai saya pindah pun aku belum mampu untuk mengatasinya, yaitu Posyandu Sapih. Untuk menuju posyandu tersebut aku dan perawatku harus jalan kaki terlebih dahulu sekitar 7 km. jadi kami harus berangkat jam 07.00 agar sampai kesana jam 08.30. Kalau pake ojek seh bisa namun kami harus menghemat biaya perjalanan meskipun kami juga mendapat ongkos transport yang tidak sesuai dengan kenyataannya, (alias tekor).
Setibanya disana kami hanya mendapat 8 orang saja yang ikut posyandu padahal masih 35 balita yang belum hadir. “mmm, Cuma bisa menghela nafas”. Ternyata setelah kami Tanya, mereka tidak tahu kalo hari itu adalah jadwal posyandu. (padahal jadwal posyandu kan sudah disepakati. Pembaca pasti bertanya-tanya mengapa seperti itu?. Inilah kenyataan di desa Sapih ini). Mereka ini telah terbiasa dengan undangan atau ajakan (ulem-ulem) dari kader. Nah kalau kadernya tidak mendatangi ke rumah warga malam sebelum posyandu, maka mereka tidak datang, meskipun sudah ada kesepakatan sebelumnya.
Saya sebagai bidan baru mencoba untuk memberikan masukan kepada mereka.
“Bu, yok opo nek disiarno neng masjid bengine?”(bu bagaimana kalau disiarkan di masjid malam harinya?)
Kader pun menjawab,” disangkakno siarane wong mati buk”. (disangka kan ada siaran orang meninggal bu).
Mmm, berarti saya harus melakukan penyuluhan kelompok dan minta bantuan dari perangkat untuk mengajak warganya ke posyandu pada hari yang sudah ditentukan. Awalnya sangat susah dan hampir putus asa tapi ya mau bagaimana lagi itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang bidan desa. Dan jangan lupa pula mengambil hati warga di sana dengan cara berkomunikasi yang efektif terlebih lagi jangan sampai menimbulkan suatu masalah yang sangat fatal, misalnya, tidak memberi KIE (Konseling, Informasi, dan edukasi) pada ibu balita yang telah diberi imunisasi DPT (Dipteri, Pertusis, dan Tetanus).
Sebulan, dua bulan, tiga bulan hal itu saya lakukan tapi tetap tidak membuahkan hasil sama sekali.  Saya pun hampir menyerah, berkali – kali Kepala Puskesmas pun marah kenapa cakupan D/S nya sangat rendah. (D/S itu merupakan indicator untuk mengetahui partisipasi masyarakat yang hadir di Posyandu, sedangkan indicator lainnya adalah N/ D untuk mengetahui keberhasilan program).
Cara lain yang saya lakukan untuk menilai kondisi imunisasi dan perkembangan bayi dan balita yang tidak hadir di Posyandu adalah Kunjungan rumah. Ini merupakan cara yang paling berat Karena kami harus keliling satu dusun dengan jalan kaki mendatangi rumah warga yang mempunyai bayi dan balita. Setibanya di sana kami harus menerima banyak kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Salah satunya adalah saat kami harus sweeping imunisasi. Ada beberapa keluarga menolak anaknya untuk diimunisasi, padahal kami sudah capek-capek jalan malah ditolak. Sungguh pengorbanan yang sia-sia.  Sehingga satu-satunya yang dapat saya lakukan adalah cuma berdoa semoga bayi dan balita saya tidak ada masalah di masa yang mendatang.
Pada bulan Desember keseluruhan desa ku terkena erupsi bromo. Nah disitulah sering mendapat bantuan dan pengobatan massal yang diadakan tepat pada jadwal posyandu. Seluruh perangkat desa, kader, pamong, bidan, pak camat dan jajarannya pun turut bekerja mensosialisasikan bahwa akan ada posyandu dan pengobatan massal. Warga pun berbondong- bondong untuk mendapatkan gratisan itu. Alhasil, bulan berikutya warga mulai aktif datang ke posyandu. Sehingga bisa saya tarik kesimpulan bahwa tim dari desa, puskesmas, kecamatan, itu sangatlah berperan penting dalam peningkatan kehadiran peserta posyandu.
Hal menarik lainnya yang bisa dilakukan oleh seorang bidan desa untuk menarik warga datang ke posyandu sebenarnya banyak banget. Posyandu sebenarnya bukan milik petugas kesehatan semata namun posyandu itu milik warga desa, sehingga keaktifan warga sangatlah menjamin peningkatan dari posyandu tersebut. Salah satu inovasi penunjang posyandu yaitu arisan, hadi hadir, atau simpan pinjam, koperasi, dll.
Untuk meningkatkan pelayanan di posyandu itu bervariasi tergantung niat petugas kesehatan yang melaksanakannya. Kalo posyandu di desa yang aku tempati kan jauh, ga ada petugas kesehatan lain disana, ga ada kendaraan umum kecuali ojek. So, selain niatnya meningkatkan pelayanan, bisa dibuat ajang cari duit…hehehehhe (ga boleh ditiru lho ya). kalau pelayanan dasar sih waktu tahun 2010 itu gratis tapi kalo pengobatan dan pelayanan kb ya disesuaikan dengan perda waktu itu yang sebelumnya pasien dtawarkan dulu untuk pengobatan di polindes dan kalo ga mau ya bagaimana lagi. Selama pasien ada komitmen sama sama mau ya ga masalah sih … sehingga waktu posyandu saya selalu bawa barang banyak banget yang isinya obat-obatan. Hal itu saya lakukan juga karena bidan – bidan sebelumnya juga seperti itu.
Beda desa beda pengalaman posyandunya. Juni 2012 saya mulai pindah tugas di Puskesmas Sukapura. Di tempat yang baru saya sudah tidak pegang desa lagi melainkan hanya di Puskesmas induk. Meski diinduk saya tetap membantu pelayanan kesehatan di posyandu. Dari sinilah saya mulai belajar banyak tentang peningkatan posyandu beserta administrasinya. Awal masuk saya sudah dihadapkan dengan persiapan monev posyandu yang dilaksaksanakan pada bulan Maret 2013. Tim dari puskesmas pun terjun untuk memantau persiapan monev yang diselenggarakan di posyandu curahwangi desa sukapura dan posyandu balai desa Ngepung. Saya dan teman ku yang  satu puskesmas yaitu Bidan Evi bertanggung jawab penuh terhadap persiapan monev di posyandu curahwangi desa Sukapura.
Persiapan itu sangat memberatkan kami karena administrasi yang tidak pernah terjamah sebelumnya sehingga kami harus lembur mengisi buku-buku posyandu yang diantaranya adalah :
buku tamu
buku pendaftaran
register ibu hamil,
register bayi dan balita
register penimbangan bayi dan balita
register wus dan pus
buku data hasil kegiatan posyandu
buku rencana kerja rutin
buku jadwal kegiatan
buku pembagian tugas kader
buku rencana PMT
buku PMT
buku inventaris barang posyandu
buku absensi kader
buku notulen rapat
buku kegiatan posyandu
buku kas posyandu dari desa dan Puskesmas
buku penyuluhan perorangan
buku penyuluhan kelompok
buku rujukan balita
buku pasca pelayanan
Buku Stock obat Fe dan Oralit, Vitamin A.
DLL
Yang kesemuanya itu diberikan no urut pada sampul buku dan ditulis di buku inventaris.
Tugas itu tidaklah berat kalau setiap bulan posyandu administrasi tersebut diisi

Kisah poSyandu

           Aku memulai karir keduaku di kabupaten Probolinggo tepatnya di desa Sapih kecamatan Lumbang. Kali pertama aku menjadi seorang bidan desa yang sebelumnya aku pernah bekerja di Rumah Sakit DKT  (Dinas Kesehatan Tentara) Sidoarjo. Meskipun sebelum masuk desa aku dikarantina terlebih dahulu di Puskesmas Lumbang selama2 bulan, (1 bulan di poli KIA dan 1 bulan diperbantukan di UGD), menurutku waktu 2 bulan itu waktu yang cukup singkat untuk belajar mengenai program-program yang ada di Puskesmas dan di desa. Sehingga untuk kemajuan kinerja bidan desa perlu waktu paling tidak 3 bulan di Puskesmas untuk mendalami program-program yang ada.
Tepat tanggal 1 Juni 2010 aku pun diterjunkan ke desa dan resmi menjadi seorang bidan desa. Kunci pertama yang harus dipegang oleh seorang bidan desa adalah pak tinggi/ pak Lurah, kader serta perangkat desa. Dengan dukungan dari mereka, kita mendapat tempat utama dihadapan warga. Sehingga seluruh program diharapkan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan oleh dinas maupun pemerintah agar IPM (Indeks Pelayanan Masyarakat) Kabupaten Probolinggo dapat meningkat.  Kegiatan bidan desa yang tak kalah pentingnya adalah POSYANDU yang merupakan singkatan dari POS PELAYANAN TERPADU. Pos Pelayanan Keluarga Berencana - Kesehatan Terpadu (Posyandu) merupakan UKBM (Upaya Kegiatan Berbasis Masyarakat) berupa kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa. A.A. Gde Muninjaya (2002:169) mengatakan : ”Pelayanan kesehatan terpadu (posyandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas.
         Aku pun yang baru kali pertamanya menjadi seorang bidan desa merasa kebingungan akan hal-hal apa saja yang harus aku lakukan di posyandu dan bagaimana memulai perkenalan pertama dengan peserta posyandu. Posyandu 1 yang aku  jalani Aku memulai karir keduaku di kabupaten Probolinggo tepatnya di desa Sapih kecamatan Lumbang. Kali pertama aku menjadi seorang bidan desa yang sebelumnya aku pernah bekerja di Rumah Sakit DKT  (Dinas Kesehatan Tentara) Sidoarjo. Meskipun sebelum masuk desa aku dikarantina terlebih dahulu di Puskesmas Lumbang selama2 bulan, (1 bulan di poli KIA dan 1 bulan diperbantukan di UGD), menurutku waktu 2 bulan itu waktu yang cukup singkat untuk belajar mengenai program-program yang ada di Puskesmas dan di desa. Sehingga untuk kemajuan kinerja bidan desa perlu waktu paling tidak 3 bulan di Puskesmas untuk mendalami program-program yang ada.
Tepat tanggal 1 Juni 2010 aku pun diterjunkan ke desa dan resmi menjadi seorang bidan desa. Kunci pertama yang harus dipegang oleh seorang bidan desa adalah pak tinggi/ pak Lurah, kader serta perangkat desa. Dengan dukungan dari mereka, kita mendapat tempat utama dihadapan warga. Sehingga seluruh program diharapkan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan oleh dinas maupun pemerintah agar IPM (Indeks Pelayanan Masyarakat) Kabupaten Probolinggo dapat meningkat.  Kegiatan bidan desa yang tak kalah pentingnya adalah POSYANDU yang merupakan singkatan dari POS PELAYANAN TERPADU. Pos Pelayanan Keluarga Berencana - Kesehatan Terpadu (Posyandu) merupakan UKBM (Upaya Kegiatan Berbasis Masyarakat) berupa kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa. A.A. Gde Muninjaya (2002:169) mengatakan : ”Pelayanan kesehatan terpadu (posyandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas.
Aku pun yang baru kali pertamanya menjadi seorang bidan desa merasa kebingungan akan hal-hal apa saja yang harus aku lakukan di posyandu dan bagaimana memulai perkenalan pertama dengan peserta posyandu. Posyandu 1 yang aku  jalani Aku memulai karir keduaku di kabupaten Probolinggo tepatnya di desa Sapih kecamatan Lumbang. Kali pertama aku menjadi seorang bidan desa yang sebelumnya aku pernah bekerja di Rumah Sakit DKT  (Dinas Kesehatan Tentara) Sidoarjo. Meskipun sebelum masuk desa aku dikarantina terlebih dahulu di Puskesmas Lumbang selama2 bulan, (1 bulan di poli KIA dan 1 bulan diperbantukan di UGD), menurutku waktu 2 bulan itu waktu yang cukup singkat untuk belajar mengenai program-program yang ada di Puskesmas dan di desa. Sehingga untuk kemajuan kinerja bidan desa perlu waktu paling tidak 3 bulan di Puskesmas untuk mendalami program-program yang ada.
Tepat tanggal 1 Juni 2010 aku pun diterjunkan ke desa dan resmi menjadi seorang bidan desa. Kunci pertama yang harus dipegang oleh seorang bidan desa adalah pak tinggi/ pak Lurah, kader serta perangkat desa. Dengan dukungan dari mereka, kita mendapat tempat utama dihadapan warga. Sehingga seluruh program diharapkan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan oleh dinas maupun pemerintah agar IPM (Indeks Pelayanan Masyarakat) Kabupaten Probolinggo dapat meningkat.  Kegiatan bidan desa yang tak kalah pentingnya adalah POSYANDU yang merupakan singkatan dari POS PELAYANAN TERPADU. Pos Pelayanan Keluarga Berencana - Kesehatan Terpadu (Posyandu) merupakan UKBM (Upaya Kegiatan Berbasis Masyarakat) berupa kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa. A.A. Gde Muninjaya (2002:169) mengatakan : ”Pelayanan kesehatan terpadu (posyandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas.
Aku pun yang baru kali pertamanya menjadi seorang bidan desa merasa kebingungan akan hal-hal apa saja yang harus aku lakukan di posyandu dan bagaimana memulai perkenalan pertama dengan peserta posyandu. Posyandu 1 yang aku  jalani yaitu posyandu Pucak Sari tanggal 3 Juni 2010. Berkat bantuan kader BU Tini aku diantar sampai ketujuan dengan menumpang hartop. Waktu itu musim hujan sehingga kami bertiga yaitu aku, winta (perawat ponkesdes Sapih), bu Tini (kader posyandu Tersono) harus jalan sejauh 3 KM dari tempat akhir / terminal hartop (baca: dringu), karena jalanannya tidak dapat dilalui kendaraan kecuali sepeda motor dengan pengemudi yang sudah cukup handal. Sesampainya di posyandu kami pun bergegas melakukan pelayanan.
Posyandu di Pucak Sari terdapat 4 kader yaitu bu mamik, bu toni, tiarmi dan bu rudi, meskipun jumlah 4 meja itu terisi 4 kader lengkap tetapi kegiatan posyandunya cukup amburadul bagiku. Aku pun terdiam dan hanya melihat saja serta langsung melakukan pelayanan di meja 5. Sebagai bidan desa baru mulai lah dengan memperkenalkan diri pada kader-kader yang sedang bertugas, pasanglah wajah senang dan senyumlah pada setiap warga yang hadir. Jangan menunjukkan rasa kesal, capek atau yang dapat menyinggung warga. Karena hal itu akan mengurangi nilai plus kita pada warga. Bidan desa yang baik adalah yang mampu bersosialisasi dengan warganya dan mengesampingkan ego pribadinya.

Juli 2010 ( harus berjalan kaki saat posyandu)

(itu foto suasana posyandu di Pucak sari) yang diselenggarakan di rumah kader Bu MAMIK

Begitupun yang kurasakan saat posyandu di dua tempat yang berbeda lainnya yaitu di sapih dan di tersono. Pelayanan 5 meja tidak berjalan semestinya hal itu dikarenakan banyak factor, diantaranya adalah 1. Ketidak aktifan kader atau kurang lengkapnya jumlah kader sehingga ke 5 meja itu tidak terisi dengan lengkap yang pada akhirnya kader yang ada harus merangkap tugas. 2. Kegiatan posyandu yang membosankan karena tidak ada PMT atau kegiatan inovasi lainnya. 3. Ketidaktahuan kader akan disjobnya. 4. Kurangnya kesadaran dari masyarakat desa tentang pentingnya kegiatan Posyandu. 5. Kondisi tempat posyandu yang masih menumpang di rumah warga/kader sehingga administrasi tidak tertata dan tersimpan dengan baik.
Awalnya aku merasa kegiatan di posyandu itu sangat membosankan. Bayangkan saja ketika ibu –ibu bayi dan balita datang, ditimbang terus diisi KMS nya setelah itu diberi PMT (Pemberian Makanan Tambahan) yang pemberiannya juga tidak setiap bulan ada tergantung kas yang ada di posyandu setelah itu pulang. Mereka datang jauh-jauh hanya mendapatkan pelayanan itu-itu aja???alangkah ruginya dan kecewanya mereka jika setiap bulan kegiatannya monoton seperti itu. Terlebih lagi banyak warga yang tidak tahu tentang jadwal Posyandu padahal sudah dbuat kesepakatan untuk posyandu Pucak Sari setiap hari kamis minggu I, posyandu Tersono setiap kamis minggu ke II, posyandu Sapih tiap kamis minggu ke III.
Masalah posyandu yang aku alami waktu itu sangatlah bermacam – macam. Ada satu dusun binaan posyandu yang merupakan tantangan bagi saya dan sampai saya pindah pun aku belum mampu untuk mengatasinya, yaitu Posyandu Sapih. Untuk menuju posyandu tersebut aku dan perawatku harus jalan kaki terlebih dahulu sekitar 7 km. jadi kami harus berangkat jam 07.00 agar sampai kesana jam 08.30. Kalau pake ojek seh bisa namun kami harus menghemat biaya perjalanan meskipun kami juga mendapat ongkos transport yang tidak sesuai dengan kenyataannya, (alias tekor).
Setibanya disana kami hanya mendapat 8 orang saja yang ikut posyandu padahal masih 35 balita yang belum hadir. “mmm, Cuma bisa menghela nafas”. Ternyata setelah kami Tanya, mereka tidak tahu kalo hari itu adalah jadwal posyandu. (padahal jadwal posyandu kan sudah disepakati. Pembaca pasti bertanya-tanya mengapa seperti itu?. Inilah kenyataan di desa Sapih ini). Mereka ini telah terbiasa dengan undangan atau ajakan (ulem-ulem) dari kader. Nah kalau kadernya tidak mendatangi ke rumah warga malam sebelum posyandu, maka mereka tidak datang, meskipun sudah ada kesepakatan sebelumnya.
Saya sebagai bidan baru mencoba untuk memberikan masukan kepada mereka.
“Bu, yok opo nek disiarno neng masjid bengine?”(bu bagaimana kalau disiarkan di masjid malam harinya?)
Kader pun menjawab,” disangkakno siarane wong mati buk”. (disangka kan ada siaran orang meninggal bu).
Mmm, berarti saya harus melakukan penyuluhan kelompok dan minta bantuan dari perangkat untuk mengajak warganya ke posyandu pada hari yang sudah ditentukan. Awalnya sangat susah dan hampir putus asa tapi ya mau bagaimana lagi itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang bidan desa. Dan jangan lupa pula mengambil hati warga di sana dengan cara berkomunikasi yang efektif terlebih lagi jangan sampai menimbulkan suatu masalah yang sangat fatal, misalnya, tidak memberi KIE (Konseling, Informasi, dan edukasi) pada ibu balita yang telah diberi imunisasi DPT (Dipteri, Pertusis, dan Tetanus).
Sebulan, dua bulan, tiga bulan hal itu saya lakukan tapi tetap tidak membuahkan hasil sama sekali.  Saya pun hampir menyerah, berkali – kali Kepala Puskesmas pun marah kenapa cakupan D/S nya sangat rendah. (D/S itu merupakan indicator untuk mengetahui partisipasi masyarakat yang hadir di Posyandu, sedangkan indicator lainnya adalah N/ D untuk mengetahui keberhasilan program).
Cara lain yang saya lakukan untuk menilai kondisi imunisasi dan perkembangan bayi dan balita yang tidak hadir di Posyandu adalah Kunjungan rumah. Ini merupakan cara yang paling berat Karena kami harus keliling satu dusun dengan jalan kaki mendatangi rumah warga yang mempunyai bayi dan balita. Setibanya di sana kami harus menerima banyak kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Salah satunya adalah saat kami harus sweeping imunisasi. Ada beberapa keluarga menolak anaknya untuk diimunisasi, padahal kami sudah capek-capek jalan malah ditolak. Sungguh pengorbanan yang sia-sia.  Sehingga satu-satunya yang dapat saya lakukan adalah cuma berdoa semoga bayi dan balita saya tidak ada masalah di masa yang mendatang.
Pada bulan Desember keseluruhan desa ku terkena erupsi bromo. Nah disitulah sering mendapat bantuan dan pengobatan massal yang diadakan tepat pada jadwal posyandu. Seluruh perangkat desa, kader, pamong, bidan, pak camat dan jajarannya pun turut bekerja mensosialisasikan bahwa akan ada posyandu dan pengobatan massal. Warga pun berbondong- bondong untuk mendapatkan gratisan itu. Alhasil, bulan berikutya warga mulai aktif datang ke posyandu. Sehingga bisa saya tarik kesimpulan bahwa tim dari desa, puskesmas, kecamatan, itu sangatlah berperan penting dalam peningkatan kehadiran peserta posyandu.
Hal menarik lainnya yang bisa dilakukan oleh seorang bidan desa untuk menarik warga datang ke posyandu sebenarnya banyak banget. Posyandu sebenarnya bukan milik petugas kesehatan semata namun posyandu itu milik warga desa, sehingga keaktifan warga sangatlah menjamin peningkatan dari posyandu tersebut. Salah satu inovasi penunjang posyandu yaitu arisan, hadi hadir, atau simpan pinjam, koperasi, dll.
Untuk meningkatkan pelayanan di posyandu itu bervariasi tergantung niat petugas kesehatan yang melaksanakannya. Kalo posyandu di desa yang aku tempati kan jauh, ga ada petugas kesehatan lain disana, ga ada kendaraan umum kecuali ojek. So, selain niatnya meningkatkan pelayanan, bisa dibuat ajang cari duit…hehehehhe (ga boleh ditiru lho ya). kalau pelayanan dasar sih waktu tahun 2010 itu gratis tapi kalo pengobatan dan pelayanan kb ya disesuaikan dengan perda waktu itu yang sebelumnya pasien dtawarkan dulu untuk pengobatan di polindes dan kalo ga mau ya bagaimana lagi. Selama pasien ada komitmen sama sama mau ya ga masalah sih … sehingga waktu posyandu saya selalu bawa barang banyak banget yang isinya obat-obatan. Hal itu saya lakukan juga karena bidan – bidan sebelumnya juga seperti itu.
Beda desa beda pengalaman posyandunya. Juni 2012 saya mulai pindah tugas di Puskesmas Sukapura. Di tempat yang baru saya sudah tidak pegang desa lagi melainkan hanya di Puskesmas induk. Meski diinduk saya tetap membantu pelayanan kesehatan di posyandu. Dari sinilah saya mulai belajar banyak tentang peningkatan posyandu beserta administrasinya. Awal masuk saya sudah dihadapkan dengan persiapan monev posyandu yang dilaksaksanakan pada bulan Maret 2013. Tim dari puskesmas pun terjun untuk memantau persiapan monev yang diselenggarakan di posyandu curahwangi desa sukapura dan posyandu balai desa Ngepung. Saya dan teman ku yang  satu puskesmas yaitu Bidan Evi bertanggung jawab penuh terhadap persiapan monev di posyandu curahwangi desa Sukapura.
Persiapan itu sangat memberatkan kami karena administrasi yang tidak pernah terjamah sebelumnya sehingga kami harus lembur mengisi buku-buku posyandu yang diantaranya adalah :
buku tamu
buku pendaftaran
register ibu hamil,
register bayi dan balita
register penimbangan bayi dan balita
register wus dan pus
buku data hasil kegiatan posyandu
buku rencana kerja rutin
buku jadwal kegiatan
buku pembagian tugas kader
buku rencana PMT
buku PMT
buku inventaris barang posyandu
buku absensi kader
buku notulen rapat
buku kegiatan posyandu
buku kas posyandu dari desa dan Puskesmas
buku penyuluhan perorangan
buku penyuluhan kelompok
buku rujukan balita
buku pasca pelayanan
Buku Stock obat Fe dan Oralit, Vitamin A.
DLL
Yang kesemuanya itu diberikan no urut pada sampul buku dan ditulis di buku inventaris.
Tugas itu tidaklah berat kalau setiap bulan posyandu administrasi tersebut diisi

[WHAFF] Khoirun Nisa Midwife WHAFF sudah mengundang Anda ke WHAFF Imbalan! Download WHAFF Imbalan, masukkan kode undangan : [ BB47864 ] dan dapatkan $0,30!!! https://play.google.com/store/apps/details?id=com.whaff.whaff

Selasa, 24 Maret 2015

Dumay it's my world

      Sejak tahun 2004 aku mulai mngenal dumay alias dunia maya. Smua brawal dari keinginan untuk mcari kakak co. Alhasil bkan kakak yg ddpet malah sahabat dan pacar. Kisah gadis sma bmain dlm dumay blm bgitu marak spt saat ini.  Tapi driku sdah mnjadi salh satu pnggemar dumay saat itu.
Suka duka mnjadi pemain ddumay tdak mbuatku patah smngat dan mmbnci dumay. Justru duka dari dumay mbuatku mnmukan jatdri yg ssungghuhnya.. jika u seorang pncta dumay psti akan mngenal NIRSYA .INI adalah nama samaran yg aq gunakan stiap bhub dengan dumay.
      Bnyak seh kjlekan dan pnipuan yg tjadi ddumay tp itu smua tgantung dr kita mmlah mna yg bnar dan yg slh. Tmasuk jg kisah cinta dumay...
Haahaha ingat crta dri pmain pmula ddumay. Sigadis harus mrasa cmburu dgn rekan nya ddumay.
Hhaahha aq ttwa sdrimmbcanya  buat apa cmburu dan marah 2 ga jlas dgn org yg g kita knal.
         Dumay hanya eksplor nya kita aja.smua tgntung dari kita sdri...yg pnah ktipu dg dumay ga usah kapok tp itu adalah pljaran bharga buat kita dan jgn sampai jtuh klubng yg sama untk kdua klinya.
Ok skian dl ya guys

sAos dan bumbu cair

lanjutan dari artikel yang kemari bahwa untuk penyimpanan saos dan bumbu cari adalah
 Jangan gunakan bila timbul jamur atau bintik putih (khamir) di permukaan mulut botol, warna berubah lebih gelap, dan kekentalan berkurang. Bumbu yang dikemas di dalam kaleng (pasta tomat), bisa disimpan di lemari dapur. Produk yang kemasannya sudah dibuka masih bisa bertahan 2-3 minggu, bila dipindahkan ke dalam kemasan bertutup rapat, lalu simpan di dalam kulkas.

6. Kacang-kacangan
 Tempat penyimpanan yang kering, bebas paparan cahaya, dan kedap udara, bisa menjaga kadar air dalam kacang tetap rendah (7%-14%). Kualitas kacang tetap terjaga selama 6 bulan, bila disimpan di dalam suhu ruang. Bila suhu lebih tinggi, kacang mudah berbau tengik dan ditumbuhi jamur.  Suhu yang lembap  juga bisa mengundang kutu dan serangga pemakan kacang. Bila ingin umur simpan kacang lebih panjang, simpan di dalam freezer. 

7.  Telor
Sebelum disimpan, cuci bersih telur dengan air. Sebab, kotoran ayam yang tertinggal mengandung bakteri salmonella, dan bisa masuk serta merusak telur lewat pori  kulitnya. Jangan menyimpan telur yang berkulit retak, karena bakteri mudah masuk dan merusak kualitas telur. Telur yang dijual dalam  kemasan karton sebaiknya tetap simpan  di dalam wadahnya. Kemasan karton  dapat melindungi penguapan air dari dalam telur melalui pori  kulitnya. Simpan di dalam kulkas agar kualitasnya terjaga  4-6 bulan.

8. garam
Kandungan yodium pada garam mudah rusak bila terpapar cahaya. Maka, ada baiknya simpan garam di dalam wadah kering yang kedap cahaya. Sering kali kita mendapatkan  garam dalam keadaan basah dan menggumpal. Ini dikarenakan sifatnya yang mudah menyerap air di udara. Usahakan wadahnya tertutup rapat setelah digunakan. Garam cukup disimpan di dalam suhu ruang yang sejuk

9. coklat
Cokelat cukup disimpan di suhu ruang. Hindari ruang simpannya dari paparan cahaya langsung, sebab cokelat akan mudah meleleh sehingga cita rasanya berkurang. Bila masih ada sisa setelah digunakan, bungkus rapat dengan plastik. Cokelat bisa bertahan hingga 18 bulan. Jangan simpan di dalam kulkas, sebab akan timbul bercak putih di permukaan cokelat yang disebabkan oleh terpisahnya lemak cokelat.
10.susu
Susu cair pasteurisasi harus disimpan di dalam kulkas, walau kemasannya belum dibuka. Masa simpannya singkat, yaitu 7-21 hari.
Susu cair sterilisasi bisa disimpan di suhu ruang, bila kemasan belum dibuka, dan harus disimpan di dalam kulkas bila kemasannya sudah dibuka. Masa simpannya bisa mencapai 6 bulan.
Susu bubuk yang paling mudah penanganannya. Cukup simpan di wadah kedap udara, kedap cahaya, di dalam suhu ruang, dan bertahan hingga 6-12 bulan. Penyimpanan di dalam freezer bisa meningkatkan umur simpannya. Hindari mengonsumsi susu yang sudah berubah warna, rasa, dan aroma.

TATA CARA PENYIMPANAN MAKANAN



Tahukah anda bahwa makanan juga ada tata cara dalam penyimpanannya. Bukan hanya kita yang memiliki tata cara dalam bergaul tapi makanan pun juga ada tata caranya. Ada beberapa tips yang dapat saya berikan pada Anda. semoga bermanfaat.
 


1. Tata cara penyimpanan Tepung

Bila kemasan belum dibuka, simpan tepung di dalam suhu ruang. Sisa tepung  bisa dipindahkan ke dalam wadah kedap udara, tidak terkena cahaya, dan kering, dengan suhu penyimpanan yang sama. Cara ini menjaga kondisi tepung tetap baik hingga 6 bulan. Bila ingin umur simpan yang lebih lama, simpan tepung di dalam freezer. Menyimpan di dalam wadah tertutup adalah syarat mutlak penyimpanannya. Bila Kemasan belum dibuka, simpan di suhu ruang untuk sisanya, pindahkan ke wadah kedap udara, tidak terkena cahaya, tetap di suhu ruang.

2. KOPI 

Yang paling menggoda dari secangkir kopi panas adalah aromanya. Namun, sifatnya yang mudah menyerap bau, membuat aromanya mudah rusak. Simpan kopi di dalam wadah gelap untuk melindunginya dari oksidasi akibat paparan cahaya, sehingga mencegah berubahnya rasa dan aroma kopi. Tutup rapat kemasannya setelah digunakan. Jangan menyimpan di freezer, sebab suhu rendah akan membuat lemak kopi akan mengkristal.  

3. GULA
 
Gula pasir dan tepung gula mudah menggumpal karena bersifat mudah menyerap uap air. Maka, simpan gula di dalam kemasan kedap udara, kedap cahaya, kering, dan sejuk. Pastikan kemasan tertutup rapat setelah digunakan, sebab gula juga dapat menyerap bau di sekitarnya. Simpan di dalam suhu ruang. Bila disimpan di dalam freezer,  kualitasnya bisa tetap terjaga hingga 2 tahun. 

4. teh
 
Tiap jenis teh memiliki umur simpan yang berbeda. Teh bunga mempunyai umur simpan kurang dari 1 bulan. Teh hitam bisa mencapai 2 tahun, sedangkan teh hijau kurang dari satu tahun. Untuk menjaga kualitas teh hingga masa akhirnya, simpan di dalam kemasan kaleng atau kemasan laminat aluminium yang memiliki perekat. Wadah kedap cahaya dan udara mampu menjaga kondisi teh tetap kering.

5. saos dan bumbu

Tidak semua saus dan bumbu cair harus disimpan di kulkas. Jenis yang bisa disimpan di dalam kulkas antara lain saus sambal, dan saus tiram. Sedangkan jenis saus  yang bisa disimpan di dalam lemari dapur bersuhu ruang antara lain hot chili oil, cuka beras, minyak zaitun, minyak wijen, kecap ikan, kecap manis, dan saus BBQ siap pakai. Hindari paparan cahaya dan panas secara langsung agar tidak timbul reaksi oksidasi pada produk. Sejak kemasan dibuka, saus dan bumbu masih bisa bertahan   2 minggu hingga 6 bulan.

tata cara lainnya akan kita ulas pada blog selanjutnya
 


NYANYIAN FATAMORGANA


Di ruang penantian
Ku coba meremaskan batu khayal
Mengikis dinding-dinding kesenyapan
Menikam perih lantunan sepi
Tapi tak berdaya ku merangkum

Pada belahan bukit-bukit kepongahan
Ada berkas hati kecil menyelinap
Di sudut ratap sebuah luka
Ia merintih tertatih-tatih
Menyesali harap yang kandas
Di tebas fatamorgana
Kecadasanmu tak sampai di mimpiku

Kemana angin membawaku mengembara
Di tengah padang tandus
Bulan bintang enggan menampakkan kuncupSenyum manismu
Sementara kicau burung camar
hanya sesekali kudengar
Mliuk-liuk di atap rumah

SEBUAH PUISI DALAM HATI

SUARA HATI DALAM SENDIRI

Kesendirianku disini
Membuat hidupku tiada berarti
Sepi kurasakan setiap hari
Tanpa adanya seorang kekasih

Kepedihan hatiku tiada berbagi
Beban deritapun kutanggung sendiri
Mengapa kehidupan yang kujalani
Tiada kurasakan manis sama sekali

Oh… Tuhan yang Maha Pengasih
Mungkinkah kutemukan sebuah arti
Tentang kerinduan hati ini
Yang terpendam dalam kesunyian nan pedih
Benarkah adanya tentang suatu janji
Bahwa cinta suci itu abadi
Tapi didriku tak menemui
Walaupun hanya sebuah kasih

Secercah sinar dalam mimpi
Pastilah akan mengobati
Luka yang selama ini kualami