Kamis, 26 Maret 2015

Kisah poSyandu

           Aku memulai karir keduaku di kabupaten Probolinggo tepatnya di desa Sapih kecamatan Lumbang. Kali pertama aku menjadi seorang bidan desa yang sebelumnya aku pernah bekerja di Rumah Sakit DKT  (Dinas Kesehatan Tentara) Sidoarjo. Meskipun sebelum masuk desa aku dikarantina terlebih dahulu di Puskesmas Lumbang selama2 bulan, (1 bulan di poli KIA dan 1 bulan diperbantukan di UGD), menurutku waktu 2 bulan itu waktu yang cukup singkat untuk belajar mengenai program-program yang ada di Puskesmas dan di desa. Sehingga untuk kemajuan kinerja bidan desa perlu waktu paling tidak 3 bulan di Puskesmas untuk mendalami program-program yang ada.
Tepat tanggal 1 Juni 2010 aku pun diterjunkan ke desa dan resmi menjadi seorang bidan desa. Kunci pertama yang harus dipegang oleh seorang bidan desa adalah pak tinggi/ pak Lurah, kader serta perangkat desa. Dengan dukungan dari mereka, kita mendapat tempat utama dihadapan warga. Sehingga seluruh program diharapkan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan oleh dinas maupun pemerintah agar IPM (Indeks Pelayanan Masyarakat) Kabupaten Probolinggo dapat meningkat.  Kegiatan bidan desa yang tak kalah pentingnya adalah POSYANDU yang merupakan singkatan dari POS PELAYANAN TERPADU. Pos Pelayanan Keluarga Berencana - Kesehatan Terpadu (Posyandu) merupakan UKBM (Upaya Kegiatan Berbasis Masyarakat) berupa kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa. A.A. Gde Muninjaya (2002:169) mengatakan : ”Pelayanan kesehatan terpadu (posyandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas.
         Aku pun yang baru kali pertamanya menjadi seorang bidan desa merasa kebingungan akan hal-hal apa saja yang harus aku lakukan di posyandu dan bagaimana memulai perkenalan pertama dengan peserta posyandu. Posyandu 1 yang aku  jalani Aku memulai karir keduaku di kabupaten Probolinggo tepatnya di desa Sapih kecamatan Lumbang. Kali pertama aku menjadi seorang bidan desa yang sebelumnya aku pernah bekerja di Rumah Sakit DKT  (Dinas Kesehatan Tentara) Sidoarjo. Meskipun sebelum masuk desa aku dikarantina terlebih dahulu di Puskesmas Lumbang selama2 bulan, (1 bulan di poli KIA dan 1 bulan diperbantukan di UGD), menurutku waktu 2 bulan itu waktu yang cukup singkat untuk belajar mengenai program-program yang ada di Puskesmas dan di desa. Sehingga untuk kemajuan kinerja bidan desa perlu waktu paling tidak 3 bulan di Puskesmas untuk mendalami program-program yang ada.
Tepat tanggal 1 Juni 2010 aku pun diterjunkan ke desa dan resmi menjadi seorang bidan desa. Kunci pertama yang harus dipegang oleh seorang bidan desa adalah pak tinggi/ pak Lurah, kader serta perangkat desa. Dengan dukungan dari mereka, kita mendapat tempat utama dihadapan warga. Sehingga seluruh program diharapkan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan oleh dinas maupun pemerintah agar IPM (Indeks Pelayanan Masyarakat) Kabupaten Probolinggo dapat meningkat.  Kegiatan bidan desa yang tak kalah pentingnya adalah POSYANDU yang merupakan singkatan dari POS PELAYANAN TERPADU. Pos Pelayanan Keluarga Berencana - Kesehatan Terpadu (Posyandu) merupakan UKBM (Upaya Kegiatan Berbasis Masyarakat) berupa kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa. A.A. Gde Muninjaya (2002:169) mengatakan : ”Pelayanan kesehatan terpadu (posyandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas.
Aku pun yang baru kali pertamanya menjadi seorang bidan desa merasa kebingungan akan hal-hal apa saja yang harus aku lakukan di posyandu dan bagaimana memulai perkenalan pertama dengan peserta posyandu. Posyandu 1 yang aku  jalani Aku memulai karir keduaku di kabupaten Probolinggo tepatnya di desa Sapih kecamatan Lumbang. Kali pertama aku menjadi seorang bidan desa yang sebelumnya aku pernah bekerja di Rumah Sakit DKT  (Dinas Kesehatan Tentara) Sidoarjo. Meskipun sebelum masuk desa aku dikarantina terlebih dahulu di Puskesmas Lumbang selama2 bulan, (1 bulan di poli KIA dan 1 bulan diperbantukan di UGD), menurutku waktu 2 bulan itu waktu yang cukup singkat untuk belajar mengenai program-program yang ada di Puskesmas dan di desa. Sehingga untuk kemajuan kinerja bidan desa perlu waktu paling tidak 3 bulan di Puskesmas untuk mendalami program-program yang ada.
Tepat tanggal 1 Juni 2010 aku pun diterjunkan ke desa dan resmi menjadi seorang bidan desa. Kunci pertama yang harus dipegang oleh seorang bidan desa adalah pak tinggi/ pak Lurah, kader serta perangkat desa. Dengan dukungan dari mereka, kita mendapat tempat utama dihadapan warga. Sehingga seluruh program diharapkan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan oleh dinas maupun pemerintah agar IPM (Indeks Pelayanan Masyarakat) Kabupaten Probolinggo dapat meningkat.  Kegiatan bidan desa yang tak kalah pentingnya adalah POSYANDU yang merupakan singkatan dari POS PELAYANAN TERPADU. Pos Pelayanan Keluarga Berencana - Kesehatan Terpadu (Posyandu) merupakan UKBM (Upaya Kegiatan Berbasis Masyarakat) berupa kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa. A.A. Gde Muninjaya (2002:169) mengatakan : ”Pelayanan kesehatan terpadu (posyandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas.
Aku pun yang baru kali pertamanya menjadi seorang bidan desa merasa kebingungan akan hal-hal apa saja yang harus aku lakukan di posyandu dan bagaimana memulai perkenalan pertama dengan peserta posyandu. Posyandu 1 yang aku  jalani yaitu posyandu Pucak Sari tanggal 3 Juni 2010. Berkat bantuan kader BU Tini aku diantar sampai ketujuan dengan menumpang hartop. Waktu itu musim hujan sehingga kami bertiga yaitu aku, winta (perawat ponkesdes Sapih), bu Tini (kader posyandu Tersono) harus jalan sejauh 3 KM dari tempat akhir / terminal hartop (baca: dringu), karena jalanannya tidak dapat dilalui kendaraan kecuali sepeda motor dengan pengemudi yang sudah cukup handal. Sesampainya di posyandu kami pun bergegas melakukan pelayanan.
Posyandu di Pucak Sari terdapat 4 kader yaitu bu mamik, bu toni, tiarmi dan bu rudi, meskipun jumlah 4 meja itu terisi 4 kader lengkap tetapi kegiatan posyandunya cukup amburadul bagiku. Aku pun terdiam dan hanya melihat saja serta langsung melakukan pelayanan di meja 5. Sebagai bidan desa baru mulai lah dengan memperkenalkan diri pada kader-kader yang sedang bertugas, pasanglah wajah senang dan senyumlah pada setiap warga yang hadir. Jangan menunjukkan rasa kesal, capek atau yang dapat menyinggung warga. Karena hal itu akan mengurangi nilai plus kita pada warga. Bidan desa yang baik adalah yang mampu bersosialisasi dengan warganya dan mengesampingkan ego pribadinya.

Juli 2010 ( harus berjalan kaki saat posyandu)

(itu foto suasana posyandu di Pucak sari) yang diselenggarakan di rumah kader Bu MAMIK

Begitupun yang kurasakan saat posyandu di dua tempat yang berbeda lainnya yaitu di sapih dan di tersono. Pelayanan 5 meja tidak berjalan semestinya hal itu dikarenakan banyak factor, diantaranya adalah 1. Ketidak aktifan kader atau kurang lengkapnya jumlah kader sehingga ke 5 meja itu tidak terisi dengan lengkap yang pada akhirnya kader yang ada harus merangkap tugas. 2. Kegiatan posyandu yang membosankan karena tidak ada PMT atau kegiatan inovasi lainnya. 3. Ketidaktahuan kader akan disjobnya. 4. Kurangnya kesadaran dari masyarakat desa tentang pentingnya kegiatan Posyandu. 5. Kondisi tempat posyandu yang masih menumpang di rumah warga/kader sehingga administrasi tidak tertata dan tersimpan dengan baik.
Awalnya aku merasa kegiatan di posyandu itu sangat membosankan. Bayangkan saja ketika ibu –ibu bayi dan balita datang, ditimbang terus diisi KMS nya setelah itu diberi PMT (Pemberian Makanan Tambahan) yang pemberiannya juga tidak setiap bulan ada tergantung kas yang ada di posyandu setelah itu pulang. Mereka datang jauh-jauh hanya mendapatkan pelayanan itu-itu aja???alangkah ruginya dan kecewanya mereka jika setiap bulan kegiatannya monoton seperti itu. Terlebih lagi banyak warga yang tidak tahu tentang jadwal Posyandu padahal sudah dbuat kesepakatan untuk posyandu Pucak Sari setiap hari kamis minggu I, posyandu Tersono setiap kamis minggu ke II, posyandu Sapih tiap kamis minggu ke III.
Masalah posyandu yang aku alami waktu itu sangatlah bermacam – macam. Ada satu dusun binaan posyandu yang merupakan tantangan bagi saya dan sampai saya pindah pun aku belum mampu untuk mengatasinya, yaitu Posyandu Sapih. Untuk menuju posyandu tersebut aku dan perawatku harus jalan kaki terlebih dahulu sekitar 7 km. jadi kami harus berangkat jam 07.00 agar sampai kesana jam 08.30. Kalau pake ojek seh bisa namun kami harus menghemat biaya perjalanan meskipun kami juga mendapat ongkos transport yang tidak sesuai dengan kenyataannya, (alias tekor).
Setibanya disana kami hanya mendapat 8 orang saja yang ikut posyandu padahal masih 35 balita yang belum hadir. “mmm, Cuma bisa menghela nafas”. Ternyata setelah kami Tanya, mereka tidak tahu kalo hari itu adalah jadwal posyandu. (padahal jadwal posyandu kan sudah disepakati. Pembaca pasti bertanya-tanya mengapa seperti itu?. Inilah kenyataan di desa Sapih ini). Mereka ini telah terbiasa dengan undangan atau ajakan (ulem-ulem) dari kader. Nah kalau kadernya tidak mendatangi ke rumah warga malam sebelum posyandu, maka mereka tidak datang, meskipun sudah ada kesepakatan sebelumnya.
Saya sebagai bidan baru mencoba untuk memberikan masukan kepada mereka.
“Bu, yok opo nek disiarno neng masjid bengine?”(bu bagaimana kalau disiarkan di masjid malam harinya?)
Kader pun menjawab,” disangkakno siarane wong mati buk”. (disangka kan ada siaran orang meninggal bu).
Mmm, berarti saya harus melakukan penyuluhan kelompok dan minta bantuan dari perangkat untuk mengajak warganya ke posyandu pada hari yang sudah ditentukan. Awalnya sangat susah dan hampir putus asa tapi ya mau bagaimana lagi itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang bidan desa. Dan jangan lupa pula mengambil hati warga di sana dengan cara berkomunikasi yang efektif terlebih lagi jangan sampai menimbulkan suatu masalah yang sangat fatal, misalnya, tidak memberi KIE (Konseling, Informasi, dan edukasi) pada ibu balita yang telah diberi imunisasi DPT (Dipteri, Pertusis, dan Tetanus).
Sebulan, dua bulan, tiga bulan hal itu saya lakukan tapi tetap tidak membuahkan hasil sama sekali.  Saya pun hampir menyerah, berkali – kali Kepala Puskesmas pun marah kenapa cakupan D/S nya sangat rendah. (D/S itu merupakan indicator untuk mengetahui partisipasi masyarakat yang hadir di Posyandu, sedangkan indicator lainnya adalah N/ D untuk mengetahui keberhasilan program).
Cara lain yang saya lakukan untuk menilai kondisi imunisasi dan perkembangan bayi dan balita yang tidak hadir di Posyandu adalah Kunjungan rumah. Ini merupakan cara yang paling berat Karena kami harus keliling satu dusun dengan jalan kaki mendatangi rumah warga yang mempunyai bayi dan balita. Setibanya di sana kami harus menerima banyak kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Salah satunya adalah saat kami harus sweeping imunisasi. Ada beberapa keluarga menolak anaknya untuk diimunisasi, padahal kami sudah capek-capek jalan malah ditolak. Sungguh pengorbanan yang sia-sia.  Sehingga satu-satunya yang dapat saya lakukan adalah cuma berdoa semoga bayi dan balita saya tidak ada masalah di masa yang mendatang.
Pada bulan Desember keseluruhan desa ku terkena erupsi bromo. Nah disitulah sering mendapat bantuan dan pengobatan massal yang diadakan tepat pada jadwal posyandu. Seluruh perangkat desa, kader, pamong, bidan, pak camat dan jajarannya pun turut bekerja mensosialisasikan bahwa akan ada posyandu dan pengobatan massal. Warga pun berbondong- bondong untuk mendapatkan gratisan itu. Alhasil, bulan berikutya warga mulai aktif datang ke posyandu. Sehingga bisa saya tarik kesimpulan bahwa tim dari desa, puskesmas, kecamatan, itu sangatlah berperan penting dalam peningkatan kehadiran peserta posyandu.
Hal menarik lainnya yang bisa dilakukan oleh seorang bidan desa untuk menarik warga datang ke posyandu sebenarnya banyak banget. Posyandu sebenarnya bukan milik petugas kesehatan semata namun posyandu itu milik warga desa, sehingga keaktifan warga sangatlah menjamin peningkatan dari posyandu tersebut. Salah satu inovasi penunjang posyandu yaitu arisan, hadi hadir, atau simpan pinjam, koperasi, dll.
Untuk meningkatkan pelayanan di posyandu itu bervariasi tergantung niat petugas kesehatan yang melaksanakannya. Kalo posyandu di desa yang aku tempati kan jauh, ga ada petugas kesehatan lain disana, ga ada kendaraan umum kecuali ojek. So, selain niatnya meningkatkan pelayanan, bisa dibuat ajang cari duit…hehehehhe (ga boleh ditiru lho ya). kalau pelayanan dasar sih waktu tahun 2010 itu gratis tapi kalo pengobatan dan pelayanan kb ya disesuaikan dengan perda waktu itu yang sebelumnya pasien dtawarkan dulu untuk pengobatan di polindes dan kalo ga mau ya bagaimana lagi. Selama pasien ada komitmen sama sama mau ya ga masalah sih … sehingga waktu posyandu saya selalu bawa barang banyak banget yang isinya obat-obatan. Hal itu saya lakukan juga karena bidan – bidan sebelumnya juga seperti itu.
Beda desa beda pengalaman posyandunya. Juni 2012 saya mulai pindah tugas di Puskesmas Sukapura. Di tempat yang baru saya sudah tidak pegang desa lagi melainkan hanya di Puskesmas induk. Meski diinduk saya tetap membantu pelayanan kesehatan di posyandu. Dari sinilah saya mulai belajar banyak tentang peningkatan posyandu beserta administrasinya. Awal masuk saya sudah dihadapkan dengan persiapan monev posyandu yang dilaksaksanakan pada bulan Maret 2013. Tim dari puskesmas pun terjun untuk memantau persiapan monev yang diselenggarakan di posyandu curahwangi desa sukapura dan posyandu balai desa Ngepung. Saya dan teman ku yang  satu puskesmas yaitu Bidan Evi bertanggung jawab penuh terhadap persiapan monev di posyandu curahwangi desa Sukapura.
Persiapan itu sangat memberatkan kami karena administrasi yang tidak pernah terjamah sebelumnya sehingga kami harus lembur mengisi buku-buku posyandu yang diantaranya adalah :
buku tamu
buku pendaftaran
register ibu hamil,
register bayi dan balita
register penimbangan bayi dan balita
register wus dan pus
buku data hasil kegiatan posyandu
buku rencana kerja rutin
buku jadwal kegiatan
buku pembagian tugas kader
buku rencana PMT
buku PMT
buku inventaris barang posyandu
buku absensi kader
buku notulen rapat
buku kegiatan posyandu
buku kas posyandu dari desa dan Puskesmas
buku penyuluhan perorangan
buku penyuluhan kelompok
buku rujukan balita
buku pasca pelayanan
Buku Stock obat Fe dan Oralit, Vitamin A.
DLL
Yang kesemuanya itu diberikan no urut pada sampul buku dan ditulis di buku inventaris.
Tugas itu tidaklah berat kalau setiap bulan posyandu administrasi tersebut diisi

Posting Komentar